[TUGAS SOSIOLOGI] TANTANGAN PROSES INTERAKSI SOSIAL DI ERA DIGITAL - ISU GENDER DALAM KAITANNYA DENGAN PERAN PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI


Di era digital saat ini, interaksi sosial mengalami perubahan signifikan terutama dalam mengatasi masalah ruang dan waktu. Berikan pandangan Anda mengenai tantangan-tantangan apa saja yang dihadapi dalam proses interaksi sosial di era digital?

ilustrasi hubungan sosial | credit: www.freepik.com


TANTANGAN PROSES INTERAKSI SOSIAL DI ERA DIGITAL


Menurut saya, era digital merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Kemajuan teknologi informasi mengantarkan umat manusia menjadi lebih terhubung melalui kode digital berupa angka biner. Ini juga tentunya berpengaruh secara dramatis terhadap proses interaksi sosial.

Orang-orang dewasa ini, yang memiliki akses internet dan alat komunikasi, akan cenderung menghabiskan banyak waktunya untuk bercengkerama dengan dunia maya daripada lingkungan sekitarnya.  Sesuatu yang melawan nature being dari sifat manusia itu sendiri, lebih-lebih terhadap bangsa Asia yang memiliki dasar kebudayaan pada proses verbal-linguistic. Lantas apa saja tantangan proses interaksi sosial di era digital?



Menurut saya tantangan proses interaksi sosial yang harus dihadapi manusia adalah:


Ketergantungan yang mengakibatkan pengguna produk digital melupakan tugas-tugas sosial, dan kewajiban rohaniah mereka

Manusia semakin jauh dari sifat naluriah manusianya untuk berinteraksi secara langsung dengan orang di sekelilingnya

Ad Hominem atau bertindak kasar, abusive, melampiaskan amarah di dunia maya yang bisa menyinggung perasaan orang lain dan memicu konflik horizontal dalam lingkaran pertemanannya

Berita palsu, hoax, ujaran kebencian dan penipuan publik adalah sesuatu yang berbahaya. Mengingat di dunia digital ini, siapapun bisa membuat profil orang-orang berpengaruh dan menebarkan kebencian kepada pengikut-pengikutnya. Mengingat akun palsu dapat membawa sesuatu yang viral dan berdampak huru-hara, desas-desus yang merusak proses interaksi sosial

Kesalahpahaman dalam bahasa tulis. Seperti yang kita tahu bahwa bahasa tulis tentu berbeda dengan bahasa verbal. Salah tanda baca satu karakter saja bisa merubah pesan yang ingin disampaikan pengirim kepada penerima yang berpikiran berbeda.

Saya pribadi menganjurkan agar kita tidak terlalu bergantung pada dunia digital dalam berinteraksi. Menggunakan produk teknologi komunikasi apabila memang benar-benar dibutuhkan, seperti menghubungi keluarga yang jauh, menghubungi clien dan berinteraksi dengan kawan sosial media hanya pada waktu senggang.

Dunia manusia adalah di alam bebas. Bukan layar yang berisi deret huruf tanpa ekspresi dan pemaknaan bergantung pada pemahaman si penerima.

Namun, di antara tantangan itu, ada cara yang dikembangkan oleh para developer produk teknologi informasi dan komunikasi. Seperti penggunaan emoticon yang dikenalkan bangsa Jepang, semakin memudahkan manusia untuk menggambar ekspresi yang berusaha tengah diungkapkan. Juga teknologi message voice dan video call membantu manusia untuk berinteraksi sosial sedikit lebih baik.

ISU GENDER DALAM KAITANNYA DENGAN PERAN PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI

Isu gender kerap menjadi problematis di masyarakat kita yang diantaranya karena kuatnya pengaruh budaya patriarki. Bagaimana Anda memandang persoalan ini, apa sesungguhnya yang membedakan gender dan seksualitas. Bagaimanakah peran perempuan dan laki-laki di ruang domestik maupun publik?

Saya memposisikan diri sebagai mahasiswa yang berpikir terbuka. Mari sebentar kita kesampingkan nilai-nilai religius. Saya memandang bahwa isu gender terjadi karena ketidaktahuan dan ketidak-mau-tahu-an masyarakat Indonesia.

Budaya Indonesia asli mengenal adanya diversifikasi gender ketiga, dan sejenisnya. Seperti yang akhir-akhir ini hangat diperbincangkan yakni tentang film Kucumbu Tubuh Indahku. Bahwasannya masyarakat, umumnya dunia maya, menganggap itu merupakan promosi budaya LGBT. Adalah tanggapan tidak mendasar dan efek ketidaktahuan/ketidak-mau-tahuan. Budaya Warok Gemblak, Lanang Lengger dan 5 jenis Gender masyarakat Bugis adalah sesuatu yang benar-benar ada di Indonesia.

Karena tidak semua budaya itu baik, maka saya menganggap bahwa isu gender yang berusaha dihembuskan melalui pemutaran (ulang) film tersebut adalah bagian dari kebodohan yang diinginkan.

Mengapa saya berani mengatakan demikian?

Karena masyarakat Indonesia masih belum bisa membedakan jenis kelamin, gender dan orientasi seksual. Ini berhubungan dengan pertanyaan kedua: apa yang membedakan gender dengan seksualitas? Menurut saya perbedaan antara gender dan seksualitas adalah:

Gender dibentuk dalam konstruksi sosial oleh masyarakat. Dan ini berkaitan dengan peranan. Jadi pengertian dan standard ‘normal’ secara gender tiap masyarakat adalah berbeda. Mengingat budaya masing-masing masyarakat juga bisa berbeda, contohnya di Indonesia ini.

Gender lebih kepada bagian program yang ter-install dalam pandangan manusia melalui masyarakat. Sementara seksualitas berkaitan dengan organ biologis, jenis kelamin dan istilah kasarnya: alat manusia untuk menghasilkan keturunan. Ibarat sebuah komputer, gender adalah sistem operasi seperti Windows, Debian, Fedora, Linux, dll yang tiap komputernya bisa berbeda. Sementara seksualitas berkaitan dengan ‘hardware’ atau ibaratnya dengan komputer itu adalah keyboard, monitor, CPU, dan perangkat keras lainnya.

Output pengolahan data pada komputer tentu dipengaruhi oleh program sistem operasi yang ditanamkan oleh si pembuat sistem. Begitu juga konstruksi gender yang terjadi di lingkungan masyarakat. Kita tidak bisa menghakimi gender atau peranan seseorang dengan standard gender yang kita miliki.

Lantas bagaimana dengan peranan perempuan dan laki-laki di ruang domestik maupun publik?

Di ruang publik, peranan laki-laki dan perempuan dibentuk dari ciri fisik keduanya. Karena laki-laki cenderung kuat, atletis dan berpikir logis, maka peranan publik yang dibentuk masyarakat adalah laki-laki harus menjadi pemimpin dan mengerjakan tugas yang membutuhkan tenaga dan pikiran yang lebih.

Sementara peranan perempuan lebih kepada bentuk ekspresif dan emosional. Yakni peranan yang membutuhkan kesabaran, keuletan dan ekspresi-ekspresi manusiawi.

Dalam kaitannya dengan hal ini, maka perempuan adalah guru bagi laki-laki. Sementara laki-laki menjadi eksekutor lapangan bagi ilmu yang diajarkan perempuan. Idealnya seperti itu.

Namun dalam ruang lingkup domestik seperti lingkungan keluarga, tidak ada batasan bagi sepasang suami-istri untuk melakukan pekerjaan yang ‘melanggar’ identitas gender mereka. Ini membuktikan bahwa aturan dan standard gender masyarakat adalah sesuatu yang bias dan berubah-ubah sesuai tempat dan kondisi.

Previous
Next Post »