[TUGAS SISTEM HUKUM INDONESIA] Institusi Politik Sebagai Pilar Demokrasi dan Perubahan Sosial di Era Internet

INSTITUSI POLITIK SEBAGAI SALAH SATU PILAR DEMOKRASI

ilustrasi pejabat pemerintah yang melakukan rapat | credit: www.unsplash.com

Pertama, bagaimana pendapat Anda mengenai institusi politik di Indonesia sebagai salah satu pilar demokrasi!


Saya berpendapat bahwa institusi politik merupakan pilar penting dalam negara demokrasi. Contohnya keberadaan partai politik dan pengawas dunia percaturan politik di Indonesia.

Tidak ada negara demokratis yang tidak memiliki institusi politik yang beraneka ragam bentuknya. Adanya parpol merupakan salah satu ciri dari suatu negara yang demokratis. Akan tetapi, keberadaan parpol bukan suatu syarat mutlak demokrasi yang berjenis institusi politik. Negara yang tidak menggunakan demokrasi sebagai sistem pemerintahan dan negaranya pun ada yang memiliki partai politik.

Institusi politik kedudukannya sangat penting sebagai sosialisasi dan edukasi ‘melek’ politik di Indonesia agar demokrasi bisa berjalan dengan damai dan penjaga marwah NKRI.

PERUBAHAN SOSIAL DI ERA DIGITAL DALAM KAITANNYA DENGAN BERITA HOAX DAN SIKAP TOLERAN


Kedua, bagaimana anda menjelaskan perubahan sosial di era internet saat ini terutama dalam hal memperkuat kesadaran kritis untuk tidak mudah mempercayai berita bohong (hoax) dan juga membudayakan sikap toleran dan anti korupsi!


Perubahan sosial di era digital sangat masif dan tidak dapat dielak. Akan tetapi, perlunya filter pribadi dan kedewasaan individu dalam mengkonsumsi berita menjadi sangat vital perannya untuk memerangi persebaran berita hoax.

Dalam menghadapi suatu berita, saya terbiasa menggunakan pendekatan Buddhism. Selalu ajukan pertanyaan seperti: “Siapa pembuat berita ini? Apa latar belakang si pembuat berita? Apa? Dimana? Bagaimana? Mengapa? Dan pertanyaan kritis lain sebelum share atau turut mengomentari suatu berita.

Berita hoax utamanya meracuni psikis atau kejiwaan manusia. Jika suatu berita ditemukan fenomena batin berupa marah, was-was, khawatir, meragukan, kebencian, mengutip ayat suci, metode penulisan acak-acakan, bersifat propaganda dan  fraud, maka, bisa dipastikan itu adalah berita hoax.

Biasanya yang mudah termakan hoax adalah orang religius yang kurang membaca dan tidak hobi berpikir atau tidak suka menggunakan otaknya dalam mencerna suatu berita. Ini kadang berdampak buruk pada sikap toleransi.

Mengenai sikap anti-korupsi, kita harus berlaku kritis terhadap arus sirkulasi dana dan pendanaan lembaga negara. Juga harus tahu sistem atau mekanisme anggaran-anggaran pada lembaga pemerintah sehingga ketika ada suatu kegiatan anomalie dapat terdeteksi dengan mudah dan ditindak.

Previous
Next Post »