[DASAR-DASAR PENALARAN LOGIS – PENGANTAR LOGIKA] Ide, Gagasan, Konsep, Term dan Hubungannya Dengan Prinsip Penalaran Serta Perihal Sesat Pikir

HUBUNGAN IDE, KONSEP DAN TERM DENGAN PENALARAN LOGIS

Dalam melakukan proses kerja penalaran logis, dikenal adanya ide, gagasan, konsep dan term. Tiga elemen utama logika ini selalu berhubungan dengan prinsip penalaran untuk menghindari silogisme atau sesat pikir.


logika adalah bagian dari ilmu filosofi | credit: www.freepik.com

PENGERTIAN IDE ATAU GAGASAN


Ide atau gagasan seringkali dipersepsikan sama dengan konsep. Padahal, secara etimologis keduanya memiliki perbedaan arti dan definisi, walau kenyataannya di dalam modul Pengantar Logika disebutkan bahwa ide dan konsep dalam logika adalah sama artinya.

Rene Descartes mengatakan bahwa "ide adalah model pikiran" (Ensiklopedia Filsafat Stanford). Ide dipahami sebagai cara yang dianggap (atau contoh dari pikiran atau manifestasi pikiran). Jika dijelaskan bahwa esensi atau sifat pikiran adalah berpikir, maka ide adalah cara berpikir yang mewakili obyek untuk pikiran.

Menurut Descartes ada tiga jenis pembagian ide. Pembagian ini menjelaskan adanya hubungan Tuhan, manusia dan alam semesta yakni:
  • Ide bawaan atau innate idea
    Ide bawaan (bersifat tidak terbatas) adalah gagasan Tuhan
  • Ide adventif atau adventitious idea
    Ide adventif atau ide yang terbatas pada pikiran adalah gagasan manusia itu sendiri. Ide adventif tergantung pada ide bawaan. Ide adventif adalah apa yang direnungkan oleh pikiran manusia
  • Ide tiruan atau factitious idea
    Ide tiruan adalah gagasan (terbatas pada tubuh) adalah alam semesta. Ide tiruan adalah ide independen, hal-hal yang ada eksternal dari pikiran. Oleh karena itu, ide sebagai obyek perwakilan dari pikiran. Tentunya, sebagai model atau bentuk pikiran, ide memunculkan konsep.  


Contoh 
Ide bawaan         : Keadilan
Ide tiruan            : Kebebasan manusia
Ide adventif       : Integrasi sosial di negara Indonesia


DEFINISI KONSEP DAN TERM DALAM ILMU LOGIKA


Definisi konsep atau pengertian adalah hasil tangkapan akal manusia mengenai sesuatu obyek, baik material maupun non-material (Bakry, 2012: 2.3). Menurut Hayon (2001:29) konsep dapat diartikan sebagai hasil kegiatan akal budi (pikiran) manusia. Hasil pikiran manusia berupa "gambaran" atau "lukisan" yang bersifat abstrak dan umum, tidak menunjuk kepada obyek dalam waktu, tempat dan ciri-ciri tertentu.

Misal, konsep kucing yang hakikatnya bersifat abstrak dan umum, bukan hanya kucing di toko, di rumah, atau di restoran. Karena itu, konsep atau pengertian secara terminologis adalah "gambaran abstrak dan umum yang dibentuk dan dimiliki oleh pikiran tentang hakikat obyek" (Hayon: 30). Maka, dapat dipahami perbedaan antara ide dan konsep. Jika konsep merupakan hasil pikiran, maka ide adalah bentuk pikiran.

Contoh Konsep: 
“Kebebasan dapat ditemukan dengan mewujudkan keadilan.”
(Lihat paper di https://multikulturalui.files.wordpress.com/2013/05/prosiding-simg-ui-2012-jilid-2-04.pdf)

Untuk mengungkapkan konsep itu secara lahiriah disebut "term". Term terdiri dari "kata". Jika suatu term terbentuk dari satu kata maka term tersebut dikatakan sebagai term sederhana. Namun jika suatu term terdiri dari beberapa kumpulan kata maka disebut sebagai term kompleks. Contohnya, baju (term sederhana) dan kampus terpadu (term kompleks).

Contoh: 
Term sederhana : Kebebasan
Term kompleks : Integrasi sosial 


MACAM-MACAM JENIS TERM DALAM PENALARAN LOGIS


Seperti halnya kata, term dibagi menjadi dua yakni konotasi dan denotasi. Ini berdasarkan pengertiannya terhadap kata-kata tersebut. Konotasi merujuk pada makna tersirat dari suatu term (kata), sementara denotasi bermaksud sebagai kata tidak bermakna atau kata yang artinya sebagaimana penulisan term tersebut.

Contohnya: konotasi menjelaskan tentang "isi pengertian" dari kata. Misalnya, kutu buku adalah orang yang tekun membaca buku. Sedang, denotasi menjelaskan "luas pengertian" dari kata. Misalnya, kutu buku adalah binatang kutu yang berasal dan hidup berkembang di dalam buku.

Denotasi berkaitan dengan himpunan, sebab menunjukkan adanya satu kesatuan. Kutu buku adalah satu kesatuan kata yang memiliki pengertian. Hubungan term konotasi dan denotasi adalah berbanding terbalik, maksudnya jika yang satu bertambah maka yang lain akan berkurang.

Sebab itu, ada empat kemungkinan hubungan antara keduanya. Selain itu, berkaitan dengan cara berada dan cara menerangkannya, term dibedakan menjadi empat macam kemungkinan yaitu term berdasarkan konotasi, term berdasarkan denotasi, term berdasarkan predikamen dan term berdasarkan predikabel.

Contoh Empat Macam Kemungkinan Term
(1) term konotasi          : Musuh dalam selimut
(2) term denotasi          : Orang dekat yang berkhianat diam-diam
(3) term predikamen     : Adanya Tuhan; adanya manusia
(4) term predikabel       : Konflik agama

PENGERTIAN DAN PEMBAGIAN PRINSIP PENALARAN


Pada pembahasan sebelumnya telah disinggung mengenai istilah penalaran. Setelag menguasai materi mengenai ide, konsep dan term sebagai dasar-dasar penalaran logis, maka logika dapat diartikan sebagai sistem penalaran tentang penyimpulan yang sah. Prinsip penalaran adalah kaidah-kaidah (hukum) paling dasar pada logika yang harus dipatuhi dan diakui sebagai legitimasi dan komitmen berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang pada akhirnya menghasilkan sejumlah konsep-konsep dan pengertian yang bersifat universal kebenarannya.

Aristoteles menyebukan ada tiga prinsip dasar penalaran dan ditambah oleh Leibniz satu prinsip lagi sehingga ada empat prinsip dasar penalaran. Keempat prinsip-prinsip penalaran tersebut adalah prinsip identitas, prinsip nonkontradiksi, prinsip eksklusi tertii dan prinsip cukup alasan.

Contoh 
(1) prinsip identitas         : Allah adalah Pencipta
(2) prinsip nonkontradiksi : Konflik disebabkan oleh tiada dialog di dalam perbedaan
(3) prinsip eksklusi tertii : Konflik agama, karena konflik antarumat beragama
(4) prinsip cukup alasan    : Allah adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta dan seisinya.


DEFINISI SESAT PIKIR ATAU SILOGISME


Kekeliruan terhadap prinsip dasar penalaran di atas dikatakan SESAT PIKIR, yang menghasilkan “kesimpulan yang tidak sah.” Menurut Irving M. Copi, sesat pikir dibedakan menjadi dua: sesat pikir formal dan sesat pikir informal. Sesat pikir formal terbagi dua: sesat pikir pertalian dan sesat pikir ke-maknagandaan.  Lalu, para ahli logika mengembangkannya menjadi tiga macam: sesat pikir FORMAL, sesat pikir VERBAL, dan sesat pikir MATERIAL.

Sesat pikir formal disebabkan oleh kekeliruan penalaran terhadap bentuknya. Sesat pikir verbal disebabkan oleh kekeliruan penalaran terhadap kata-katanya (pertalian dengan penggunaan yang salah atau kemaknagandaan kata). Sesat pikir material disebabkan oleh kekeliruan penalaran terhadap isinya.

Contoh Sesat Pikir Formal

  • Kritis adalah reinterpretasi atas pandangan universalitas atau partikularitas
  • Ternyata reinterpretasi atas pandangan partikularitas,
  • Berarti, kritis.

Contoh Sesat Pikir Verbal

  • Hermeneutika kritis Habermas di Jerman
  • Musim es di Jerman
  • Maka, musim es adalah hermeneutika kritis Habermas

Contoh Sesat Pikir Material

Konflik agama di Indonesia dapat dijelaskan dan dipahami kembali dalam historisitas dan doktinitas Islam yang dihadirkan di bumi Indonesia. kemudian, menyimpulkan, semua konflik agama di Indonesia disebabkan politik dan ekonomi.


KESIMPULAN HUBUNGAN ANTAR IDE, KONSEP DAN TERM DENGAN PRINSIP PENALARAN


Diatas adalah pembahasan mengenai ide, konsep, term dan hubungannya dengan prinsip penalaran pada ilmu logika. Praksisnya tampak pada prinsip dasar dari logika sebagai sistem penalaran tentang penyimpulan yang sah. Lebih singkatnya, jika sudah keliru prinsip dasar penalarannya maka otomatis terjadi sesat pikir atau silogisme





Sumber bacaan:
http://plato.stanford.edu/entries/descartes-ideas/#thoughts 
Hayon, Y.P., Logika: Prinsip-prinsip Bernalar Tepat, Lurus dan Teratur. Cet. II. Jakarta: ISTN, 2001, h. 29-32.
Noor Muhsin Bakri dan Sonjoruri Budiani Trisakti. Logika. Ed. V. Jakarta: Universitas Terbuka, 2012, hal. 2.3-2.26 dan 2.32-2.40. 
https://multikulturalui.files.wordpress.com/2013/05/prosiding-simg-ui-2012-jilid-2-04.pdf



Previous
Next Post »