Timbal Balik Kondisi Lingkungan dan Sosial Budaya di Probolinggo

T: "Terdapat pengaruh timbal balik antara kondisi lingkungan dengan kondisi sosial budaya. Dengan mengambil contoh kondisi yang ada di wilayah Anda, uraikan pengaruh timbal balik antara kondisi lingkungan dengan kondisi sosial budaya!"

Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dengan lingkungannya,  baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial, dalam lingkungan sosial akan membentuk sistem pergaulan yamg berperan besar dalam membentuk kepribadian seseorang, dalam lingkungan sosial pasti akan ada permasalahan yang berkaitan dengan nilai moral dan pranata-pranata sosial dalam masyarakat.

credit: Qlapa
Saya tinggal di Kabupaten Probolinggo, dimana merupakan salah satu daerah di kawasan Tapal Kuda dengan mayoritas etnis Pendalungan-nya. Etnis Pendalungan adalah perpaduan dua entitas suku yakni Jawa Arek dan Madura.
Jawa Arek adalah kultur budaya Jawa 'pasar' atau pesisir yang sangat jauh berbeda dengan Jawa Matraman (Mataram/Keraton). Budaya Jawa Arek yang terdapat di Jawa Timur lebih lugas, apa adanya, egaliter, adaptif, sedikit 'kasar' dan toleransi.
Sedangkan suku Madura adalah suku yang berpusat di Pulau Madura.

Berbicara mengenai kondisi lingkungan dan timbal baliknya dengan kondisi sosial budaya masyarakat, di Probolinggo utamanya, maka dapat disimpulkan bahwa budaya Pendalungan kami berbeda dengan saudara kami di Lumajang dan Jember.
Probolinggo terletak di jalur 'truk' atau Pantura, dekat dengan laut. Dan banyak warga yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Disini banyak warga yang suka berbicara dengan intonasi 'keras'. Meskipun kami dikenal dengan 'carok' (berkelahi untuk kehormatan diri), berbicara dengan suara lantang tidak bermaksud untuk menantang berkelahi, melainkan dikarenakan kebiasaan dan kondisi lingkungan kami yang dekat dengan laut atau nelayan yang biasa mencari ikan berhari-hari di laut. Sehingga jika berkomunikasi harus menserasikan dengan suara ombak. Jadi harus sedikit lebih lantang. Kebiasaan ini dibawa hingga ke daratan. Sehingga menjadi sebuah identitas.

Juga, karena merupakan pencampuran budaya dan kondisi geografis, kami punya istilah atau bahasa creole sendiri. Seperti: dikranyami, sangasai, cokocoi, soro, koen dll.
Istilah tersebut tidak ada dalam bahasa Jawa Matraman karena sebetulnya kata-kata tersebut diambil dari bahasa Madura (kata dasar) dan kata imbuhan dari bahasa Jawa

Keadaan sosial budaya masyarakat Pendalungan adalah hampir sama dengan etnis Jawa Arek; mencintai atau menyukai dengan sungguh-sungguh, membenci juga dilakukan dengan sungguh-sungguh
Dan jangan lupa, berurusan dengan cinta atau ternak sapi artinya Anda berurusan dengan arit (sabit) alias nyawa Anda.

Bersinggungan dengan budaya atau seni tari, kami punya Tari Lengger
Merupakan jenis tari pertunjukkan yang mirip Bedhaya namun dilakukan di pasar atau tempat umum serta menggunakan kidung-kidung berbahasa Madura. Pakaian tari yang digunakan pun bercorak merah, khas Jawa Timur yang menyimbolkan maskulinitas. Berbeda dengan Pulau Jawa bagian tengah yang didominasi warna cokelat atau bernuansa 'teduh'.

Kesimpulan dari berbagai perpaduan kondisi budaya dan kondisi lingkungan di daerah Probolinggo adalah:
Karena berada di wilayah yang merupakan daerah transisi budaya Jawa Matraman ke Pulau Madura, maka kondisi sosial budaya kami banyak dipengaruhi oleh kedua budaya tersebut.
Previous
Next Post »